Orasi Ilmiah Masa Pendidikan Kepala SMA Muhammadiyah At Tanwir Metro

Foto / Gambar: Kepala SMA At Tanwir Penyampaian Orasi Ust.M.Fauzi,LC.

Di Pelepasan Santriwan/i PontrenMu At-Tanwir Metro

Oleh: Ustazd Muhammad Fauzi,LC

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Indah nian bunga melati,
Mekar merona di taman sekolah.
Selamat datang bapak dan ibu yang kami muliakan,
Hadir membawa doa, cinta, dan keberkahan.

Yang saya hormati para pimpinan Muhammadiyah, para guru, wali santri, tamu undangan, dan terutama anak-anakku kelas XII angkatan ketiga yang hari ini berdiri di ambang gerbang kehidupan baru.
Hari ini bukan sekadar seremoni kelulusan. Hari ini adalah momentum peradaban. Momentum ketika pendidikan diuji bukan hanya dari angka dan ijazah, tetapi dari sejauh mana manusia mampu menjaga akal, adab, dan arah hidupnya di tengah dunia yang semakin gaduh.

Kita hidup di zaman yang aneh.
Informasi melimpah ruah, tetapi kebijaksanaan semakin langka.
Semua orang bisa berbicara, tetapi sedikit yang benar-benar memahami.

Semua bisa mengakses pengetahuan, tetapi tidak semua memiliki kedewasaan untuk menempatkan ilmu pada tempatnya.
Hari ini, satu menit video bisa dianggap setara dengan bertahun-tahun membaca kitab.

Satu unggahan media sosial bisa membuat seseorang merasa paling benar, padahal ia belum selesai memahami akar persoalan.
Inilah krisis terbesar generasi modern:
bukan krisis informasi, tetapi krisis adab dalam berilmu.

Dalam tradisi Islam, ilmu tidak pernah lahir dari kesombongan. Ilmu lahir dari ketundukan. Dari kesabaran duduk di hadapan guru. Dari kemampuan menahan diri untuk tidak tergesa-gesa berbicara tentang sesuatu yang belum dipahami.

Karena itu saya ingin menyampaikan kepada anak-anakku sekalian:
Jangan menjadi generasi yang cepat berkomentar tetapi lambat berpikir.
Jangan menjadi generasi yang bangga viral tetapi miskin kedalaman.

Dan jangan pernah merasa cukup hanya karena telah membaca sepintas lalu merasa paling tahu.

Ilmu memiliki disiplin.
Ilmu memiliki metodologi.
Ilmu memiliki amanah.
Ilmu kedokteran tidak bisa dipahami dengan logika sembarangan.

Ilmu hukum membutuhkan ketelitian definisi.
Filsafat membutuhkan kesabaran berpikir.
Dan ilmu agama membutuhkan kebersihan hati sekaligus keluasan akal.
Maka jangan pernah meremehkan proses belajar.

Sering kali dunia membenturkan agama dan sains seolah keduanya saling bertentangan. Padahal dalam pandangan Islam berkemajuan Muhammadiyah, ilmu bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk dituntunkan menuju kemaslahatan.

Di sinilah pentingnya cara berpikir Muhammadiyah.
Kita mengenal pendekatan bayani, burhani, dan irfani.

Ada wahyu sebagai cahaya.
Ada akal sebagai alat membaca realitas.
Dan ada hati sebagai penjaga kebijaksanaan.
Kemajuan tidak boleh membuat manusia kehilangan Tuhan.

Tetapi keberagamaan juga tidak boleh membuat manusia takut pada kemajuan.
Anak-anakku alumni At Tanwir,
Kalian akan masuk ke dunia yang jauh lebih keras dari ruang kelas ini. Dunia yang penuh kompetisi, distraksi, dan kebisingan opini. Di sana kalian akan menemukan banyak orang pintar, tetapi belum tentu bijak. Banyak orang terkenal, tetapi belum tentu bermakna.

Karena itu, jadilah manusia yang tenang dalam belajar, hati-hati dalam berbicara, dan kokoh dalam prinsip.
Hormati ilmu.
Hormati guru.
Hormati proses.
Sebab orang yang kehilangan adab dalam ilmu pada akhirnya akan kehilangan arah hidupnya sendiri.

Dan ingatlah, ukuran kesuksesan bukan hanya tentang profesi tinggi atau penghasilan besar. Tetapi apakah ilmu yang kalian miliki menghadirkan manfaat, menghadirkan keadilan, dan mendekatkan manusia kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 36:
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.”

Ayat ini sangat relevan untuk zaman hari ini.
Zaman ketika manusia mudah berbicara tanpa ilmu. Mudah menghakimi tanpa memahami. Mudah menyebarkan tanpa memverifikasi.

Maka saya berharap, alumni At Tanwir menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara moral dan kokoh secara spiritual.

Generasi yang duduk dalam adab, berdiri dalam keteguhan, berjalan membawa manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Akhirnya, terima kasih kepada para orang tua yang telah mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada kami. Terima kasih kepada para guru yang mendidik dengan kesabaran dan keikhlasan. Dan terima kasih kepada seluruh pihak yang terus membersamai perjuangan pendidikan Muhammadiyah.

Semoga Allah meridai setiap langkah dan ikhtiar kita.
Nun wal qalami wa maa yasthurun.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

banner 300x250

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *